Setelah lima hari belajar
akhirnya libur datang kembali. Pada hari sabtu pukul 08.30 WIB, suara
handphoneku berbunyi ternyata itu sms dari Aldo, mengajakku untuk belajar
Al-quran sehabis shalat maghrib gratis. Waktu yang kutunggu akhirnya datang,
akupun langsung bergegas ke masjid. Selesai shalat Aldopun mengajariku membaca
al-qur’an dengan suara yang indah, karena aku ingin sekali bisa seperti Aldo.
Selesai mengaji kamipun langsung pulang, karena rumah kami satu arah, sepanjang
jalan kamipun bercanda
Sampai Aldo lupa kalau gang
rumahnya sudah terlewat, akupun tertawa dan kamipun berpisah. Sesampai dirumah
tiba – tiba terbesit aku memikirkan Aldo, sampai – sampai bayangan Aldo tidak
bisa hilang dari pikiranku.
*******
Hari
seninpun datang lagi, tapi kali ini kami sangat senang karena ada rapat guru.
Tiba- tiba Sintia mendekatiku saat aku mengerjakan sedang tugas .
“Ra, gw punya kejutan buat loe,
tar pulang sekolah loe ke kantin, jangan nolak ajakan gw, pliss!” tanyanya
sambil memegang tanganku .
“Ok … “jawabku ketus. Bel pulang
berbunti akupun langsung menuju kantin, saat itu aku melihat Sintia duduk
bersama seorang cowok, akupun mendekati dan duduk disebelah Sintia.
“Ra, gw bawa kejutan buat loe,
kenalin Randi”tanyanya sambil menarik tanganku dan Randi.
“Oh, gw Clara temen Sintia senang
berkenalan” jawabku ketus.
“Ra, dia kelas XI IPA lho?” rayu
Sintia padaku.
Stelah berkenalan aku langsung
menarik tangan Sintia.
“Ada apa Ra, sakit tau, loe suka
sama dia ?” tanyanya sambil menggodaku.
“Ngomong apa sih loe, ngapain loe
ngenalin gw ama Randi, seakan gw kaya cewek ga laku apa ! udah gw ga mau
pacaran ama dia dan jangan coba-coba loe kenalin gw ama orang lain” jawabku
ketus.
‘Ya, Ra gw udah cape nyariin buat
loe, tapi dia tuh suka ama loe , lagi apa kurangnya dia sih, pintar, ganteng,
baik lagi terima aja Ra kalau ga gw marah!” jawabnya dengan nada mengancam.
“Terserah loe mau marah apa ga
yang penting gw ga mau pacaran sama Randi titik “ sambil pergi meninggalkan
Sintia.
Akupun pulang ke
rumah sendiri tanpa Sintia. Keesokan pagi saat berabgkat sekolah, ia tidak menungguku.
Sesampai di sekolah Sintia sudah datang duluan. Saat aku mencoba berbicara
padanya, ia hanya diam dan tanpa berbicara dan menoleh sedikitpun . aku merasa
sahabat terbaikku marah padaku, karena masalah kemarin di kantin.
*******
Saat
liburan sekolah aku mencoba ingin menyelesaikan masalah dengan Sintia, akupun
memutusakan untuk pergi ke rumah Sintia dan menjelaskan semuanya padanya.
“Hai Sin, loe liburan ga kemana-
mana ?”tanyaku
“Ga loe ada apa ke rumah gw, ada
perlu ?” jawabnya jutek.
“Sin, gw pengen jelasin
sebenarnya gw . . . dah suka sama orang lain, karena itu gw ga mau ama Randi”
Jelasku .
“Kenapa loe ga ngomong sama gw
dari awal jadinya gw ga usah marah am aloe, tapi loe ketemu dia dimana, terus
siapa namanya ?” tanyanya sambil mencubit pipiku.
“Jadi sekarang loe ga marah ama
gw, sekarang loe dah maafin gw, gw ketemu dia di masjid At – Taqw, dia tuh
temen SD kita, Aldo”jelasku sambil memandang wajah Sintia yang imut.
“Udah gw maafin, terus loe bisa
deket ama Aldo gimana tuh caranya?”tanyanya. dengan wajah penasaran.
“Gw deket ama dia saat gw minta
dia ajarin gw baca Al-Quran gitu?”jelasku.
“Jadi loe suka suaranya dong,
bukan orangnya gitu!”tanyanya penasaran.
“Ya, boleh dibilang gitu, tapi
lebih tepatnya gw suka sama orangnyalah!”jawabku sambil bercanda.
Tiba – tiba
handphoneku berbunyi dan itu sms dari Aldo
"Ra, loe gi d’mana? Biza ktmu ama
w ga skrng? Tpi kalo g biza gpp, kalo mau dicafe dkt komplek kita !!! BlzZ
Pengirim :
Aldo
+6287878999xxx
Akupun membalas sms Aldo, agar
aldo menungguku di Café. Aku bilang pada Sintia kalau aku akan bertemu dengan
Aldo, akhirya aku pergi dan menuju café yang tidak jauh dari rumah Sintia,
sampai di café aku melihat seorang cowok dengan celana jins warna hitam yang
memakai kaos putih dan itu Aldo yang sedang menungguku .
“Assalamualaikum Do, maaf ya gw
telat ?”jelasku .
“Waalaikum salam, gapapa kok gw
juga baru”jawabya singkat.
Akhirnya kami langsung masuk
kedalam café, mencari kursi kosong dan memesan minuman.
“Tumben loe
ngajak gw kesini ada apa, memangnya loe lagi ulang tahun yah . .?”jelasku
sambil bercanda.
“Oh . . . ga kok, gw ga ulang
tahun, gw cuman pengen ketemu sama loe, ada yang gw mau omongin”jawabya
menjelaskan padaku.
“Ngomong apa sih, gw punya salah
ya ?”tanyaku penasaran.
“Ga kok, loe ga salah, malah gw
yang salah Ra, gw boleh jujur ga, se-be-narnya gw . . .”
Tiba – tiba ada seorang pelayan
café datang mengantarkan minuman yang kami pesan dan pelayan itu memotong
pembicaraan Aldo.
“Maaf do, tadi loe ngomong apa,
gw ga dengar bisa diulang?”tanyaku.
“Ra, gw suka sama loe, mau ga loe
terima gw tapi kalo loe ga mau terima gapapa, memang ini salah gw karena gw
suka sama loe !”jelasnya dengan bicara yang cepat.
Akupun terdiam sejenak, dan aku
tidak dapat menatap wajah Aldo. Dan seakan ucapan Aldo dapat menghentikan
peredaran darahku.
“Apa loe ga salah ngomong, bukan
gw kali cewek yang loe taksir, Do?” tanyaku sambil meminum mencoba menenangkan
diri.
“Gak, mana mungkin gw bisa salah
orang, apalagi gw suka sama loe, saat loe kita masih duduk di kelas 5 SD, ga
tau kenapa gw ga bisa nglupain loe Clara dan kalo loe mau tau gw ga pernah
pacaran sama orang lain karena gw hanya suka sama loe”jelasnya dengan menatap
kedua mataku.
Akupun mencoba berpikir dan
mengambil napas untuk aku bisa menjawab pertanyaan dari Aldo. Dan sesaat
suasana menjadi hening .
“Tapi kalau gw nolak, apa loe
tetap mau nungguin gw sampai gw nerima loe, do?”tanyaku menatap wajah Aldo yang
semakin tegang.
“Gw ga akan nyerah, gw akan coba
terus sampai loe mau terima gw, Clara dang w benar – benar sayang sama loe dan
gw akan lakukan apapun buat loe”jawabya .
“Gw . . . .mau te-rima loe jadi
cowok gw!”jelasku padanya.
“Benar nih, berarti mulai sekarang
kita pacaran dong!” tanyanya sambil mengedipkan mata.
“Tapi kita pacaran jangan terlalu
berlebihan yah, loe tau maksud gw-kan, biasa aja ok . . .!”jelasku mencoba
menenangkan pikiranku.
“Baiklah”jawabya dengan wajah
bahagia.
Setelah pertemuan itu hatiku
sangat bahagia sekali, seakan aku dapat dengan mudah menggapai awan yang
tinggi. Setelah itu aku hampir lupa untuk mengabarkan Sintia tentang ini,
akupun langsung mengambil hadphoneku dan menelpon Sintia.
“Assalamualaikum, Sintia lagi
ngapain nieeh!”tanyaku .
“Waalaikum salam,
lagi nonton tv. Ada apa loe kayaknya loe lagi seneng yah, kenapa?”
“Gak kenapa – napa, Sin gw
ditembak Aldo.”
“Maksud loe, serius loe jangan
bercanda!”
“Ngapain hal – hal kaya gini gw
bercanda, ga ada gunanya lagi.”
“Terus loe terima ga?”
“Menurut loe lebih baik yang mana
kalo ga terima bagaimana menurut loe?”
“Kalau loe ga terima dia loe akan
nyesel karena loe udah kenal ama dia udah lama dan apa lagi dia tuh keren dan
udah beda lagi sifatnya gak kaya dulu, ra!”
“Loe tau dari mana, Sin tentang
Aldo?”
“Gw tau dari temen gw, dia satu
kelas dan satu sekolah sama aldo, tapi loe jangan cemburu dulu ga baik lho?”
“Lagi siapa yang cemburu, orang
gw biasa aja sih!”.
“Jadi loe terima diaapa ga,
cepetan jawab.”
“Ya, gw terima dia, udah ya . . .
udah malem gw mau tidur “
“Gitu dong, ya udah
Assalamualaikum”.
“Walaikum salam pren”.
Dan setiap hari aku menjalankan
aktivitaasku seperti biasanya tanpa berubah satu apapun. Aku merasa sangat
senang mempunyai pacar seperti Aldo, selain menjadi pacar terkadang dia juga
sebagai guru terbaikku karena dia membantuku dalam belajar sehingga aku dapat
meningkatkan prestasiku.
SELESAI
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar