Minggu, 21 Oktober 2012

Awal Perkuliahan Membuat "Kredo"

Awal perkuliahan gue di jurusan PLB, Fakultas Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta gue diharuskan membuat Kredo (keyakinan) tentang pelajaran pendidikan khusus, Now, Listen to me ....


Awal pertama saya mendengar, mengetahui dan melihat anak yang memiliki kebutuhan khusus, yaitu dari cerita pengalaman kedua orang tua dan berkunjung ke sekolah tempat kedua orang tua saya mengajar. Dari pengalaman orang tua saya tentang anak berkebutuhan khusus, misalnya dari cerita Ayah yang mengajar SLB – B yaitu tunarungu, menurut pandangan saya dengan anak tunarungu mereka memilki pikiran yang normal tetapi mereka memilki kekurangan yaitu sulit berbicara karena adanya gangguan dari  indra pendengar mereka, sehingga mereka dalam berkomunikasi menggunakan gerakan tangan yaitu SIBI, dan untuk berkomunikasi dengan mereka susah. Sedangkan Ibu mengajar SLB-C yaitu tunagrahita banyak kejadian yang menarik terjadi yaitu anak yang ibu tanganin adalah anak yang selalu tidak pernah menjaga kebersihan dan penampilan dirinya, sering mengilar disembarang tempat, sering buang air kecil di kelas.  saya  merasa mereka itu beda dengan yang lain. Beda dalam arti disini yaitu cara perilaku dia dengan orang lain dan penampilan dia yang berbeda dengan orang di sekitar kita pada umumnya. Dalam pikiran saya, saya beranggapan “mereka itu aneh, unik dan sempat berpikir kok bisa seperti itu ya?”. Anggapan saya yang seperti itu ada di pikiran saya, karena saya awalnya tidak terlalu mengerti anak berkebutuhan khusus dan apa penyebab mereka dapat berperilaku seperti itu.
Dengan mendengar dan melihat pengalaman kedua orang tua, saya menjadi lebih bersemangat dan rasa ingin tahu tentang anak berkebutuhan khusus semakin meningkat, sehingga saya ingin masuk Pendidikan Luar Biasa. Alasan masuk ke Pendidikan Luar Biasa, Pertama itu saya ingin memperdalam lagi macam- macam anak berkebutuhan khusus, apa penyebabnya mereka seperti itu, dan cara mengatasinya dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Kedua, karena jurusan ini sangat mulia walaupun guru itu mulia tetapi guru dalam bidang ini lebih mulia karena menangani anak berkebutuhan khusus. Terakhir, lapangan pekerjaan untuk jurusan ini sangat luas dan sangat dibutuhkan. Sehingga saya meyakini bahwa jurusan yang saya ambil ini tidak salah, dan sesuai dengan alasan saya.

Pendidikan Luar Biasa itu menurut saya yaitu suatu pendidikan yang mengajar anak –anak berkebutuhan khusus seperti anak – anak yang mengalami gangguan pada indera, fisik maupun mentalnya. Selain itu di pendidikan ini terdapat anak berbakat yaitu anak yang memiliki bakat- bakat yang istimewa. Dalam pendidikan ini merupakan pendidikan yang sangat istimewa karena di pendidikan ini kita mempelajari karakteristik dari anak – anak berkebutuhan khusus, materi belajar yang mengasyikkan dan kita juga mempelajari saraf – saraf, selain itu menurut saya Pendidikan Luar Biasa ini selain kita menjadi guru tetapi kita juga sebagai dokter untuk anak berkebutuhan khusus.
Yang membedakan anak berkebutuhan khusus dengan anak pada umumnya adalah gangguan pada indera, fisik dan mental. Dari pengalaman yang saya alami ada beberapa perbedaan. Saat saya mengunjungi SLB B-C ada peristiwa yang sangat benar- benar membuat saya sadar yaitu saat saya mencari ayah ada seorang anak tunarungu umurnya kira-kira 16 tahun dan dia masih tingkat SMP di SLB-B mendekati saya dan dengan kata- kata yang diucapkan kurang jelas tetapi saya sedikit mengerti dan ternyata dia menunjukan saya ruangan ayah saya, tetapi bedanya dengan anak pada umumnya jarang ada anak atau siswa yang langsung melakukan tindakan yang dilakukan anak tunarungu tersebut, karena mereka terlalu tidak peduli dengan lingkungan. Dapat disimpulkan ternyata pendidikan bukan hanya materi yang diperlukan tetapi cara bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang sangat perlu.  Dari segi fisik, saat saya masuk keruangan Ibu saya mengajar di SLB-C anak – anak tersebut tidak berpakaian rapih, sering buang air kecil sembarangan, air liur yang selalu menetes, tetapi jika kita lihat anak yang pada umumnya pasti tidak ada yang mengalami seperti itu. Selain itu ada pengalaman lain yang membuat saya terkejut, dari pengalaman ibu saya, jika anak tunagrahita ini sudah suka sama orang lain, maka apa yang dikatakan orang yang disukainya pasti langsung dituruti, nama murid ibu popi, popi ini sangat dekat dengan gurunya (ibu saya) karena metode mengajar ibu yang dianggap menarik buat popi, dan jika popi pergi keluar negeri atau pergi keluar kota pasti besoknya saat masuk sekolah dia membawakan bingkisan untuk gurunya. Dari pengalaman itu pasti anak yang  normal tidak akan bersikap seperti itu. Jadi pada intinya anak berkebutuhan khusus itu walaupun memiliki kekurangan tetapi mereka memiliki kemampuan dan kelebihan yang sama dengan anak pada umumnya .
Tujuan saya di Pendidikan Luar Biasa yaitu dapat memotivasi anak berkebutuhan khusus untuk tetap dan terus berjuang dan mengeksplor kemampuan yang terpendam yang ada di dalam dirinya. Jika dari pengalaman Ibu yang menjadi inspirasi saya sampai saat ini yaitu saya ingin menciptakan metode yang membuat anak didik saya nantinya bisa berubah walaupun bukan dalam pendidikan atau materi pelajaran tetapi dari segi moral dan perilaku dia untuk lingkungan sekitar. Dan saya ingin memperlakukan mereka seperti anak lainnya yaitu diberi ketrampilan untuk mereka siap di dunia luar, walaupun memiliki keterbatasan tak menghalangi mereka untuk ikut dalam dunia luar dan berjuang dengan dunia luar untuk meraih prestasi yang diinginkan. Setelah itu semua terwujud saya ingin membangun Sekolah Luar Biasa. Amin-